Remember the Fourth of November

“What if they got in?”

My sister looked at me with terror written all over her face. We could hear people shouting from afar. Although we didn’t catch a word, we knew something was really, really wrong.

She was helping me picking a new pair of sandals in a mall that has direct access to the apartment where we were staying, when one of her friends sent a video showing a large group of protesters passing North Jakarta’s main streets. It’s impossible, I said to myself. The rally has just ended. Maghrib (prayer time) is here. Medias have announced that the protest against Jakarta’s Chinese-Indonesian governor ended in peace. My friends tweeted about it literally a few minutes ago.

We rushed home anyway. Shortly after we locked the door, another news came in: the protesters had destroyed a restaurant not far from our apartment. I put everything on hold and tried to find more information. A journalist friend quickly confirmed our biggest fear: religious hardliners had made their way to North Jakarta where the majority of Chinese-Indonesian family lives. There were not enough military force, police officers, or security guards to protect us because most of them were trying to tackle the riot took place in front of the presidential palace. The information was followed by a picture of protesters in front of a mall and a simple message: “Stay safe. Stay inside.” That was the mall where my sister and I bought my new sandals an hour ago; the mall with direct access to our apartment.

The next 5-6 hours was pure terror. Speakers blasted announcement over and over again, “DO NOT GO OUT. STAY INSIDE. DO NOT PANIC. STAY CALM.” Way to reduce our anxiety! We stepped out of our little space. I immediately saw tense faces. Our neighbors were probably just as nervous and scared.

By the time we’re back inside, the blurry sounds had dissipated. The protesters had left. My sister turned on the TV. We ate dinner with our eyes glued to the screen. Riot was taking place 10 minutes from our doorstep. I didn’t have the heart to tell her that 18 years ago protesters barged into an apartment nearby, raped Chinese-Indonesian women and threw their bodies out of the windows.

“I’d jump off the balcony if they get in,” she looked at me as if she could read my mind. “We could hide,” I mumbled. My sister stared at me like I just said the most ridiculous thing in the world. “You know what they’d do to us,” she continued, this time more calmly, “I wouldn’t let it happen to ME.”

We spent the next several hours watching the news, following updates on social medias and talking with our friends. We watched videos of protesters raided two minimarkets and burned police vehicles. We watched journalists ran away as police started launching tear gas. We heard shots. It felt surreal to know that everything was happening literally 10-15 minutes away from us. It felt surreal to know that there are people who won’t hesitate to ‘eliminate’ us had they given the chance. It felt surreal that we were THIS close to a riot that caused the death of hundreds—some say more than a thousand—Chinese-Indonesian people 18 years ago.

Then military forces won. Riot stopped. The president stepped up and gave his speech. We could finally breathe and had much needed hot shower. I fell asleep as soon as my head touched the pillow. I spent the next morning processing and observing my own feelings. My heart beats faster out of nowhere. Sadness and pain surfaced when I was sitting in a cab. Then anger. Then frustration.

Then I met my best friends and hang out at their place. I spent more than an hour lying on their bed absentmindedly playing with my phone and just let myself think and feel whatever I wanted to think and feel. I started to feel better. My friend wanted to watch a comedy and we went to the theatre. Two hours later I felt much, much better. I still had a restless night, tense muscles and this morning I woke feeling a little weak.

The struggle is far from over. Chinese-Indonesian communities will still face lots of challenges, regardless Ahok’s next winning. Regardless he’s proven not guilty. Peace, to most of us, is an illusion. We know it’s not going to be over soon. I told my sister not to unpack her suitcase. I’ll fly her to Bali at the first sign of chaos and who knows what is going to happen in the next 6, 12 months. After 18 years, 1998 has never felt more real.

And still, here I am, putting so much hope in our beloved president Joko Widodo. Thinking that I am so lucky to be able to have a beautiful life in Bali. That Indonesia and its wonderful beaches are one of the most amazing places on Earth, even as I watched video of a group of protesters in white robes announcing they wouldn’t hesitate to turn Indonesia into “a war zone”. That no matter what happens, my love for this country and its people remain unscathed although we might have to leave someday. I hope not.

Because it’s my dream to be able to tell my kids someday, “It was decades of struggle and suffering, followed by long years of peace and concord.”

Bye Lembap dan Gelap di Area V dengan Lactacyd White Intimate

FullSizeRender (2)

Terlahir dan tinggal di negara tropis dengan tingkat kelembapan tinggi sering bikin gue merasa kurang pede dengan area kewanitaan gue sendiri. Namanya perempuan, ya kan, selalu banyak aktivitas, apalagi tipe-tipe burung prenjak kayak gue. Susah diam, susah ditahan, adaaa aja yang bikin sibuk. Sayangnya, tumpukan kegiatan plus temperatur dan kelembapan negara tropis seringkali menyulitkan. Bukan cuma sekali-dua kepercayaan diri gue terusik karena keringat berlebih di area intim. Mending cuma keringat, kalau sudah kena gesekan di pakaian, maaak! Bukan cuma risih, tapi juga malu-maluin!

Mau tahu seberapa ‘gobyos’nya gue? Sebelum ketemu Lactacyd, gue sempat menghindari memakai celana jeans berwarna cerah. Khawatir keringat berlebih itu ‘nyeplak’ di bagian selangkangan. Euuuuw.

(Emang pernah sampe nyeplak, Jen? PERNAH. SUMPAH. Jangan ditanya dikemanakan muka ini.)

Keringat dan gesekan pada pakaian nggak cuma bikin lembap dan risih. Tapi juga bikin warna kulit berubah! Huhuhu. Nggak percaya? Mari ramai-ramai ambil cermin dan intip bersama. Kulit di sekitar area intim lo pasti lebih gelap dari area lainnya.

Jadi gimana, dong?

Meski gue belum selesai mencoba Lactacyd White Intimate selama 4 minggu penuh, bahan-bahan alami yang terkandung di dalamnya seperti susu, bengkoang dan algowhite, terbukti secara klinis mencerahkan kulit di area intim dalam 4 minggu. Kandungan alami ekstrak susu lactoserum dan lactic acid, dari ektrak susu dipercaya mampu menjaga keseimbangan pH alami area V juga lho. Karena alami, tentunya bahan-bahan ini pun dapat digunakan secara sering, bahkan setiap hari. Untuk dapetin hasil optimal gunakan 2x sehari selama 4 minggu. Bikin penasaran nggak, sih? Gue iya. Banget. Nggak sabar pengin cepat lihat hasilnya!

Anyway, Lactacyd White Intimate gue nobatkan sebagai favorit bukan saja karena khasiat mencerahkannya, tapi terutama karena kandungan alami di atas, yang sudah teruji secara dermatologi. Setiap hari bisa bebas lembap, bebas gelap, percaya diri, kurang apa lagi, Ceu? :’)

Terus, udah, Jen? Dari sekian banyak varian Lactacyd, yang dijagoin cuma Lactacyd White Intimate aja?


Varian Lactacyd lain favorit gue adalah Lactacyd All Day Fresh.

Satu hal lagi yang bikin risih dari keringat berlebih dan kelembapan di area intim adalah …pssst… aroma kurang sedap. Gue tahu banyak perempuan yang sungkan membahas hal ini, bahkan mungkin memilih berdiam diri karena malu. Khawatir dikira jorok. Takut dicap nggak bersih, dan sebagainya. Padahal, masalah-masalah ini wajar sekali dialami perempuan. Alhasil, banyak yang bertahan dalam situasi tak nyaman. Jangan, dong. :’)

Gue jatuh hati pada varian Lactacyd All Day Fresh ini segera setelah membuka botolnya. Wanginya lembut, dengan ekstra herbal essence dan ekstrak susu. Kesegaran herbalnya tahan lama setelah dipakai sehingga gue tidak perlu khawatir bakal dihinggapi bakteri sepadat apa pun aktivitas gue, sedangkan ekstrak susu mengusir bakteri jahat yang bikin aroma nggak sedap betah nempel sekaligus membersihkan. Sama seperti kakaknya si Pencerah, sang Penyegar ini pun sudah teruji secara dermatologi dapat digunakan setiap hari.

Dan yang terpenting: gue bisa melalui hari dengan hati riang dan ringan. Bebas lembap, bebas penat. Bhay!

(Pssst. Ukuran Lactacyd All Day Fresh yang mungil juga menyenangkan banget buat dibawa ke mana-mana! *cemplungin koper, angkut ke Ameriki*)

Demikian pengalaman dan ocehan gue mengenai dua varian Lactacyd yang menemani hari-hari gue. Masih ada varian lain, Feminine Wipes, yang ingin gue coba tapi belum sempat. Ihiks. Kapan-kapan, ya!

Anyway, buat kalian yang doyan nulis di Blog, Lactacyd lagi ngadain Blog Competition nih, masih ada kesempatan untuk ikutan lho! Hadiahnya cakeup ceu, ada 1 buah Macbook Air, 5 Handphone Samsung dan 50 hampers menarik dari Lactacyd!


  1. Peserta adalah “Fans” Facebook Fanpage Lactacyd ID dan ‘follower’ dari Twitter @Lactacyd_ID
  2. Syarat penulisan:
  • Share pengalaman pribadi menggunakan Lactacyd White Intimate
  • Ulasan produk Lactacyd White Intimate meliputi:

» Lactacyd White Intimate yang terbukti klinis mencerahkan area V dalam 4 minggu.

» Kandungan alami Lactacyd White Intimate: ekstrak susu, bengkoang dan algo white.

» Lactacyd White Intimate telah teruji secara dermatologi dapat digunakan setiap hari.

» Link ke

  1. Kirimkan tulisan terbaikmu dengan share link blogmu di kolom komentar  postingan kompetisi blog ini berlangsung.
  2. Jangan lupa sertakan hashtag #ProvenSelfV
  3. GOOD LUCK, Girls!


  1. Periode kompetisi blog dimulai pada tanggal 15 Februari 2016 dan ditutup pada 15 April 2016, pukul 23:59 WIB.
  2. Pengumuman pemenang akan dilakukan setelah tanggal 15 April 2016.
  3. Pemenang dipilih berdasarkan pilihan juri dari pihak Lactacyd ID dengan tulisan testimonial yang paling menginspirasi.
  4. Satu orang pemenang utama akan mendapatkan 1 buah Macbook Air, 5 orang pemenang akan mendapatkan Handphone Samsung serta 50 hampers menarik untuk 50 pemenang lainnya.
  5. Pemenang wajib mengkonfirmasi kemenangan dengan mengirimkan data diri berupa nama lengkap, alamat lengkap (untuk pengiriman hadiah), no. telpon, & e-mail melalui INBOX facebook fanpage Lactacyd ID. Jika ternyata pemenang tidak dapat dihubungi/tidak merespon setelah 2×24 jam, maka hadiah akan dibatalkan dan Lactacyd Indonesia berhak untuk memilih pemenang yang lainnya.
  6. Hasil tulisan dapat digunakan oleh pihak Lactacyd Indonesia, misalnya dibuatkan video testimonial, liputan dll).
  7. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Ikutan ah!! 🙂 🙂 🙂



Kennetha dan Karakter Fiksi

Screen Shot 2016-04-07 at 1.01.34 PM

“Gila, bikin karakter fiksi itu susahnya ampun!” Kennetha menepuk setir dengan tampang gemas, tapi kedua matanya berbinar penuh semangat. Kami baru bertemu tiga menit sebelumnya, saat mobil Uber yang ia kendarai menjemput gue di pelataran sebuah hotel di Los Angeles, California. Dia melirik gue dengan tampang jahil saat memberitahu bahwa jalur memutar yang kami ambil sebetulnya ditutup untuk umum. Gue cengar-cengir saja. Obrolan pun bergulir.

Kennetha pindah ke Los Angeles demi mengejar mimpi di Hollywood. Profesinya sebagai make-up artist yang sudah kebagian cipratan proyek drama seri TV populer mengobarkan impiannya sebagai penulis fiksi. “Sebelum ini, saya tinggal di Italia. Well, traveling, sih. Lama-lama capek juga, hidup dari satu koper,” tawanya, memperlihatkan deretan gigi yang amat putih.

Dalam perjalanan yang tak sampai sepuluh menit itu, kami bertukar cerita. Tentang kemacetan Los Angeles versus macetnya Jakarta yang … yah, sebenernya nggak bisa dibandingin, sih. Kemacetan LA boleh jadi menyandang gelar terburuk se-Amerika, tapi kemacetan Jakarta disinyalir mengalahkan padatnya lalu lintas hati yang berulangkali terluka. Nggak gerak-gerak, Cin.


“Sulit untuk tetap konsisten saat sedang menyusun sebuah cerita, apalagi kalau karakter yang kita tulis belum lengkap detilnya,” ucap Kennetha setengah mengeluh, yang langsung gue sambut dengan anggukan.

“Kamu harus memastikan karaktermu relatable ke penonton. Harus memastikan karakter tersebut mengalami perkembangan yang signifikan di sepanjang cerita. Nggak boleh stuck. Dia juga harus believable,” Kennetha menggeleng-geleng, “Nulis fiksi itu nggak enteng.”

Make-up artist. Super Uber. Entah apa lagi profesi yang disandangnya. Perempuan di samping gue sedang berjibaku demi sebuah impian. Sesuatu yang dulu kerap membuat gue merasa terasing dan sendirian, karena menghidupi mimpi yang (dirasa) terlalu besar pernah membuat gue memilih menutup diri. Kennetha justru sebaliknya. Ia membagikan mimpi-mimpinya senatural bercerita tentang maling jemuran yang dikeroyok warga RT 003.

Amerika, kau semakin menawan seiring bergulirnya waktu, padahal aku baru dua hari di sini.

“Kamu nggak mau pindah ke LA? Jadi penulis di Hollywood?” Kennetha melirik gue.

Gue tersenyum.

“Belum. Nggak sekarang.”

Los Angeles atau Jakarta. New York atau Bali. Mengejar mimpi bisa dari mana saja. Gue percaya itu.

In the meantime, wahai kawan-kawan penulis setanah air, marilah kita beramai-ramai belajar menulis karakter fiksi dari seorang supir Uber.

Keping-keping Terakhir dan Sebuah Perjalanan

FullSizeRender (1)

Dear Ibu Alien,

Hari ini keping-keping terakhir resmi kuterima. Pelengkap teka-teki yang usianya lewat limabelas tahun. Keping-keping itu kubawa dengan selamat sampai ke rumah. Tempatnya kini di atas pembaringan, di mana ia kuletakkan tanpa tersentuh. Kupandangi tanpa terbaca.

Bagaimana bisa aku memulai sesuatu yang ujungnya adalah perpisahan? Perjumpaan itu kuawali bertahun-tahun silam saat aku membawa pulang keping pertama, hanya untuk kusingkirkan satu jam berselang karena akal belum cukup kuat mencerna isi kepalamu yang menampung rahasia alam semesta. Perjumpaan itu terulang bertahun-tahun kemudian, saat kita duduk bersisian di halaman pengadilan. Di sanalah pertama kalinya kau memperkenalkanku pada Elektra dan Bodhi. Meyakinkanku bahwa keberadaan mereka patut disimak. Hari itu aku pulang membawa keping-keping gratisan. Malamnya aku berkenalan ulang dengan Puteri, disusul menyapa Akar dan Petir sekaligus.

99 keping bagiku bukan sekadar cerita. Bukan hanya teka-teki yang harus dilengkapi pada waktunya. Bukan juga rangkaian kisah penuh rahasia yang sudah saatnya diselesaikan. Keping-keping yang tercecer belasan tahun adalah bagian dari perjalanan hidupku, perjalanan kita.

Aku tahu kita berdua masih akan terus bersisian meski dalam bentuk yang senantiasa berubah. Kau masih akan ada di sana, sejauh sebuah pesan singkat atau panggilan telepon. Namun semua takkan lagi sama, karena setelah kupasangkan keping terakhir ke teka-teki besar ini, ada bagian dari ‘kita’ yang menemui akhirnya. Entah kenapa ini jadi begitu personal.

Ibu Alien,

Malam ini aku pergi tidur tanpa menyentuh keping-keping di pembaringan. Biarlah aku menyimpan mereka selama yang kubisa, sejauh yang kumampu… sampai hati sanggup mengucap selamat tinggal.


Salam hangat,

Mantan Asisten

Yang Klasik Tetap yang Terbaik

Beberapa bulan terakhir, gue punya hobi baru yang tak terlalu populer tapi sangat menyenangkan karena secara langsung berkaitan dengan profesi gue sebagai penulis skenario: menonton film-film klasik Hollywood. Sebagian besar film yang gue tonton diproduksi jauh sebelum tahun kelahiran gue, atau hanya beberapa tahun setelahnya: Apocalypse Now, Bull Durham, The Piano, E.T. The Extra Terrestrial, dan banyak lagi.

Bukan saja terpesona melihat aktor/artis yang menawan mempesona pada masanya (bayangkan Susan Sarandon 28 tahun lalu. Yep!), gue juga sangat menikmati sensasi “Gila ya, ini film dibuat tahun berapa…” yang bertransformasi menjadi kekaguman “Ah gila, keren banget!” saat menonton film-film yang masuk kategori timeless classic di Hollywood sana.

Pelan namun pasti, hobi tersebut membuat gue berpikir: apakah Indonesia punya film yang hadir saat gue sudah cukup besar untuk menghargai dan memahami sinema, yang demikian apik sampai bisa dinobatkan sebagai sebuah karya klasik?

Gue tidak perlu berpikir terlalu lama untuk menemukan jawabannya di Ada Apa Dengan Cinta? (AADC).

Anak 90-an, siapa yang bisa lupa dengan fenomena sinema tanah air berjudul AADC? Dirilis tahun 2002, film yang berhasil meraup 2,7 juta penonton itu sanggup membuat remaja seantero Indonesia berbondong-bondong mengantre bahkan pada jam sekolah, menghafalkan dan mengulangi dialog-dialog catchy dari film, mempelajari gerakan dance Cinta dan teman-temannya, dan sebagainya. Belasan tahun setelah AADC diluncurkan, gue masih bisa menyebutkan dialog-dialog Cinta dan Rangga tanpa perlu mencontek Google:

“Basi! Madingnya udah siap terbit!”

“Terus … salah gue? Salah temen-temen gue?”

“Saya gak mau pulpen itu balik ke muka saya gara-gara berisik sama kamu.”

Dan yang paling melelehkan hati…

“Aku pasti akan kembali dalam satu purnama.”

(Meski nyatanya butuh berapa purnama untuk Rangga dan Cinta ketemu lagiii? Dasar lelaki! #eh)

That’s what I called classic. Sebuah karya tak perlu menempuh puluhan atau ratusan tahun untuk dinobatkan sebagai karya yang classic, timeless. Ia hanya perlu mengarungi masa dengan pesona yang tak lekang dimakan usia.

Dalam bincang-bincang AADC 2 yang merupakan salah satu bagian kampanye bertajuk #TasteTheClassic dari Magnum belum lama ini, Mira Lesmana sang kreator mengungkapkan bahwa proses ‘kelahiran’ film tersebut merupakan sesuatu yang pleasurable baginya. Membuat kembali sesuatu yang sudah ditinggalkan selama empatbelas tahun. Membangkitkan kembali tokoh-tokoh yang tak hanya berjaya pada masanya, namun juga tetap hidup di hati para penikmat film lama setelah AADC hengkang dari layar bioskop.

I can only imagine. Gue belum pernah menghasilkan sebuah karya yang terbilang klasik (semoga suatu saat nanti, AMIN!), namun proses berkarya selalu menjadi sesuatu yang pleasurable. Memulai dari nol dan menciptakan sesuatu yang indah dari ketiadaan adalah kenikmatan tiada tara. Sama seperti menikmatinya kembali dan mengenangnya lama setelah hal tersebut berlalu. An ultimate satisfaction for pleasure seekers!

Gue pun jadi paham kenapa Magnum mendukung AADC 2 yang memang tepat untuk mewakili karya yang timeless, classic. In a way, film ini mengingatkan gue pada ketiga varian Magnum yang juga sangat bisa dibilang classic. Who doesn’t know Magnum’s premium masterpieces—Classic, Almond and White Almond? Nggak heran kalau AADC 2 dipilih menjadi perwakilan untuk kategori film dalam kampanye perayaan kenikmatan dan kesuksesan Magnum Classic, selain dua kategori lain yang nggak kalah seru: musik & fashion.

Jadi kepikiran nyelundupin Magnum Classic ke bioskop pas nonton nanti deh, biar kenikmatan klasiknya sempurna gitu, MWAHAHA. *dijitak XXI*

(Ahelah. Nulis ini jadi bikin ngidam Magnum beneran! *ngesot ke warung*)

Anyway. Gue sungguh-sungguh berharap AADC 2 akan meneruskan kesuksesan pendahulunya yang membuat ribuan remaja Indonesia meluberi bioskop. Semoga film yang sudah begitu lama dinantikan ini bisa memuaskan kerinduan setiap penggemarnya bukan saja pada sosok Cinta dan Rangga, tapi juga pada hal-hal yang sangat khas AADC: dialog-dialog lugas yang ‘nampol dan nempel’, pertemanan perempuan-perempuan remaja yang kini sudah dewasa, kekonyolan tak terduga sepanjang film yang membuat ngakak sekaligus tersentuh (siapa yang nggak mengidolakan Mamet? Gue sih, banget!) dan tema klasik yang takkan pernah membosankan untuk dibahas, ditonton, disimak: cinta dan persahabatan.

Karena yang klasik memang tetap yang terbaik.


(Photo credit: @MyMagnumID)