Indonesia65

“Lu mah bukan orang Indonesia. Lu orang Cina.”

“Woy, ada amoy! Amoooy!”

“Eh, Cokin. Mau ke mana?”

“Weee, yang matanya sipiiit…”

—–

Darah yang mengalir di tubuh ini barangkali berasal dari negeri di seberang lautan, nun jauh di sana. Namun kedua kaki ini berpijak di tanah Indonesia, dan paru-paru ini menghirup udaranya setiap hari.

Saya orang Indonesia. Sampai kapan pun.

Selamat Hari Jadi, Negeriku.

*Gambar dipinjam dari: http://www.indonesiapusaka.info/wp-content/uploads/2010/03/bendera.jpg

6 Replies to “Indonesia65”

  1. Banyak kata belum tentu bermakna. Dan sedikit kata bukan berarti tanpa makna. Nice posting. 🙂

    -dari penulis yang masih merangkak- *Kalau ada waktu, intiplah saya merangkak di fayeyolody.blogspot.com

    😀

  2. Mang masih ada yang nganggep lu cina jeng… Gue aja lupa berasa qta sama aja…hehehehe….

    Tapi ya je, bahkan di South Africa pun ada warga negara keturunan cina lho. Gak usah jauh-jauh lah ya… Gue punya temen warga negara Philippines keturunan cina.

    Cuma diteriakin amoy dan sipit doang, diamrik bahkan lebih rasis. Kulit berwarna ga boleh belanja di beberapa pusat perbelanjaan, supermarket ato minimarket.

    Rasisme itu selalu ada dan itu nyata. Gak perduli qta tinggal di negara manapun. Selama bumi ini masih berputar *cieee* perbedaan itu selalu menimbulkan pro dan kontra bu.

    Rasis di Indonesia itu sudah mendarah daging akibat penjajahan belanda dulu. Para penjajahlah yang pertama kali mendoktrin perbedaan status dan ras. Karenanya butuh telinga tebal untuk melawan perbedaan itu.

    Yuk maree…..permisi dulu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *