Cinta dalam Diam

“Jantungmu berdebar keras sekali.”

Bisikan itu halus, tapi efeknya luar biasa. Ia menelan ludah yang terasa getir, seratus persen sadar bahwa jantungnya baru saja berkhianat. Membongkar rahasia yang mestinya ditutup rapat. Tapi siapa yang bisa disalahkan, kalau kulit mereka cuma terpisah lapisan baju?

Berdebar keras, katanya. Masih bagus jantungnya tidak meloncat keluar dan menggelepar di lantai. Cinta yang dipaksa diam justru paling sulit diredam. Tak percaya? Silakan coba sendiri.

Gadis itu jatuh cinta. Pada pandangan pertama. Kendati seluruh sendi tubuhnya dan setiap sel otaknya membantah konsep cinta pada pandangan pertama. Cinta tak muncul begitu saja seperti hujan di siang bolong, yang mengguyur tiba-tiba tanpa kenal waktu, membuat orang basah kuyup dan ibu-ibu berdaster lari pontang-panting menyelamatkan jemuran. Demikian ia selalu percaya.

Cinta pada pandangan pertama tak ada dalam kamusnya, dan tak bakal jadi penghuni sah di sana. Lucunya, ia sendiri tak tahu mengapa. Barangkali karena cinta pada pandangan pertama menandakan cinta tanpa syarat. Kau tak perlu tahu banyak untuk jatuh cinta. Kau tak menganalisa untuk terjun bebas. Kau tak perlu ini-itu; hatimu sekadar jatuh. Cinta seperti itu cuma ada di negeri dongeng. Cinta yang tak riil dan tak punya masa depan. Cinta yang kalau pun ada, cuma jatahnya remaja.

Laki-laki yang pernah dekat dengannya mulai dari pemilik restoran nomor satu, desainer kawakan, produser, banker, serta nama-nama yang kerap dijumpai di layar kaca. Hanya satu-dua yang sanggup membuatnya meletakkan hatinya di meja judi. Lelaki satu ini datang dengan sandal jepit, kaus tanpa lengan, kulit legam terbakar matahari, dan segala pertahanannya runtuh dalam sekejap. Cinta bukan cuma tak kenal logika, tanpa segan dibuatnya kau gila.

Barangkali sebabnya sederhana saja. Lelaki itu punya mata paling indah di dunia. Jendela jiwa yang lewatnya kau bisa mengintip sekilas derita dan luka, asa dan cinta, tawa dan angkara, dan tak ada yang lebih indah dari sepasang mata yang jujur memberitahu semua.

“Kamu masih berdebar-debar.”

Lidahnya kelu. Susah payah diaturnya napas supaya gugupnya tak terlalu kentara.

Lelaki itu tak perlu tahu. Bahwa setiap ia menyentuhnya, disengaja atau tidak, seluruh engselnya seperti lumpuh. Otot-ototnya kehilangan fungsi. Bahwa gerakan sekecil apa pun sanggup membuat jantungnya mencelat. Bahwa seluruh dunianya mengabur, mengecil, menyempit, dan setiap kali lelaki itu hadir, ia menguasai semestanya. Tanpa perlu berbuat apa-apa.

Ia tak paham kenapa seseorang yang begitu sederhana bisa punya daya yang begitu besar untuk mengacak surga kecilnya—tempat segala sesuatu berjalan teratur, tertata, terencana. Satu tatapan dan ia jatuh. Betulkah? Bahkan Lucifer perlu menarik sepertiga malaikat untuk memporakporandakan surga.

Yang ia tahu, lelaki itu membuatnya tak lagi ingin berlari. Cinta yang lama dijauhi kini dihadapinya dengan pasrah dan berserah. Pada apa pun yang dijatahkan untuknya. Berkah atau kutuk. Bahagia atau sengsara. Senang atau malang. Meski ganjarannya tak mudah; setiap pertemuan butuh upaya ekstra keras untuk meredakan degup jantung dan menyembunyikan semburat salah tingkah. Biarpun dadanya sesak menahan ngilu setiap kali mata mereka bertemu. Cinta yang ditahan bisa menghilangkan kewarasan, namun ia sungguh tak punya pilihan.

Biarlah peluknya mengungkap semua. Karena cuma itu yang ia bisa.

“Kamu salah tingkah lagi,” lelaki itu menatapnya. Lengan-lengan mereka akhirnya berpisah.

“Mukamu merah seperti tomat,” ia berkilah cepat.

Lelaki itu tak perlu tahu. Barangkali suatu hari ia akan menulis surat cinta yang cuma bakal dilarung di laut atau sungai. Cintanya bukan untuk diumumkan. Cintanya terlalu sederhana sekaligus terlalu megah untuk jadi kenyataan, kendati yang diperlukan cuma sebaris

“Saya sayang kamu.”

JJ

7 Replies to “Cinta dalam Diam”

Leave a Reply to LIYA Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *