Surat untuk Ayah

Ayah tersayang,

Hari ini seorang teman bertanya, “Pernahkah kamu menyesali keputusanmu untuk pergi?”

Saya terdiam, dan ingatan tentangmu kembali berhamburan. Tentang kalian. Tentang kita.

Ayah tersayang,

Meninggalkan kalian adalah hal tersulit yang pernah saya lakukan. Dua tahun nyaris berlalu dan air mata ini belum juga habis. Namun jawaban atas pertanyaan itu adalah tidak; saya tidak menyesal.

Ayah tersayang,

Maafkan saya atas segala luka yang saya timbulkan. Maafkan saya karena tidak sanggup memenuhi janji untuk terus bersama sampai Tuhan memanggil salah satu dari kita. Maafkan saya karena harus menjadi orang pertama yang pergi, dan perpisahan itu bukan disebabkan oleh maut.

Maafkan saya karena tidak mampu memenuhi harapan-harapanmu. Maafkan saya karena telah mengecewakanmu begitu rupa. Maafkan saya atas segala air mata, kesedihan, dan rasa sakit yang timbul karena saya tidak bisa lagi menjadi seseorang yang dibanggakan.

Namun Ayah, saya tidak menyesal.

Dua tahun ini adalah tahun paling menakjubkan dalam hidup saya. Untuk pertama kalinya saya bisa mengambil keputusan tanpa bertanya kepada siapa pun. Untuk pertama kalinya saya bisa melakukan apa yang saya kehendaki tanpa menunggu persetujuan orang lain. Untuk pertama kalinya saya bisa pergi ke mana pun saya suka tanpa khawatir akan pendapat orang. Untuk pertama kalinya saya bisa bergaul dengan siapa saja tanpa memikirkan perbedaan yang harus dijembatani.

Untuk pertama kalinya saya benar-benar tahu apa itu bahagia.

Dan Ayah, saya jatuh cinta.

Jatuh cinta ternyata perasaan yang luar biasa. Perasaan yang membuat seseorang rela mendaki gunung demi terjun bebas dari bibir jurang, remuk-redam babak-belur, lalu berjuang mendaki lagi hanya untuk mengulangi hal yang sama setibanya di atas.

Saya jatuh cinta kepada hidup.

Untuk pertama kalinya pula, saya benar-benar bersyukur. Hati saya bernyanyi dengan sendirinya. Tanpa ia perlu disuruh. Tanpa perlu diingatkan untuk berterimakasih.

Ayah tersayang,

Hidup memang tidak mudah. Dan lebih dari sekali saya bertanya-tanya apa yang akan terjadi seandainya saya tidak pernah memilih untuk pergi. Apa yang terjadi seandainya kita masih terus bersama.

Hidup barangkali akan jauh lebih mudah. Rasa aman tersedia duapuluhempat jam dikali tujuh hari. Kita akan duduk di meja yang sama setiap hari, di ruangan yang sama. Tapi saya akan membenci kalian. Saya akan membenci diri saya sendiri—seperti saya membencinya sedemikian rupa sebelum akhirnya saya memutuskan untuk pergi.

Hidup memang tidak mudah, dan berkali-kali saya membayangkan apa rasanya kembali berada dalam perlindunganmu, naungan kasihmu, belaian tanganmu. Namun kini saya belajar percaya. Sesuatu yang dulu tidak pernah bisa saya lakukan. Saya belajar mempercayai diri sendiri. Saya belajar mengandalkannya. Saya belajar menjadi jujur pada perasaan dan kebutuhan saya. Dan saya belajar mencintainya apa adanya. Ternyata, mencintai diri sendiri itu tidaklah buruk.

Ayah tersayang,

Di sini saya belajar

Bahwa setiap detik dan hirupan nafas adalah keajaiban.

Bahwa hidup bukanlah sesuatu yang bisa didikte berdasarkan buku panduan.

Bahwa cinta bukanlah sekumpulan teori yang menjamin hasil sama bagi mereka yang mengalaminya.

Bahwa perbedaan ada bukan untuk dihilangkan atau dibenci, melainkan dihargai dan diterima apa adanya—karena setiap manusia sama berharganya.

Dan bahwa Tuhan tidak seperti yang kita perbincangkan selama ini.

Saya belajar mengenal-Nya dengan cara yang sama sekali berbeda, namun kini Ia terasa jauh lebih nyata. Sangat dekat … dan ada.

Ayah tersayang,

Surat ini adalah apa yang tidak berani saya katakan selama dua tahun terakhir, karena pertemuan selalu membuat lidah saya kelu dan bibir saya terkunci. Maafkan saya karena hanya bisa menyampaikannya dengan cara ini. Mudah-mudahan Ayah tidak keberatan.

Ayah tersayang,

Saya baik-baik saja di sini. Saya bahagia.

Semoga itu cukup. 🙂

—–

*Gambar dipinjam dari gettyimages.com

Ho’oponopono

Kurang-lebih satu tahun lalu, saya mengikuti sebuah retreat meditasi di mana instrukturnya adalah sahabat saya sendiri. Dalam sesi pembuka dari retreat yang berlangsung selama empat hari itu, ia mengajak seluruh peserta melakukan Ho’oponopono, sebuah teknik penyembuhan berbasis meditasi yang berasal dari Hawaii.

Ho’oponopono terdiri dari empat kalimat singkat “I’m sorry”, “Please forgive me”, “I love you”, dan “Thank you” yang diucapkan secara berurutan sambil menyadari masalah yang sedang dihadapi. Setiap peserta bebas mengucapkan apa pun yang menjadi ganjalan batinnya dan mengakhiri curhat singkat itu dengan empat kalimat tadi.

Bukan hal mudah bagi saya untuk melakukan teknik sederhana itu. Saya sedang menjalani proses penyembuhan dari perpisahan yang saya alami berbulan-bulan sebelumnya—perpisahan menyakitkan yang diiringi banyak air mata dan membuat saya menangis hampir setiap hari. Saya kecewa. Saya marah. Saya terluka. Saya menyalahkan. Dan kini saya harus mengucapkan “I’m sorry, please forgive me…”? Tidak bisa.

Saya bergumul selama sesi berlangsung. Beberapa minggu setelah retreat, dalam pertemuan pribadi dengan sahabat saya, saya berkata terus terang, “Saya tidak sanggup berkata ‘I’m sorry‘ dan ‘Please forgive me‘ dengan tulus karena apa yang terjadi bukan kesalahan saya. Sayalah yang terluka. Sayalah yang menjadi korban. Saya bahkan belum bisa memaafkannya, bagaimana mungkin saya harus minta maaf kepadanya?”

Sahabat saya menjawab dengan tenang, “Ho’oponopono tidak ada hubungannya dengan orang yang menyakiti kamu. Kamu tidak sedang meminta maaf kepadanya. Teknik ini baru akan berhasil ketika dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa kita memiliki andil dalam setiap penderitaan kita.”

Saya menatapnya dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin saya memiliki andil dalam penderitaan saya sendiri—atau dengan kata lain, saya turut bertanggungjawab atas penderitaan ini? Jelas-jelas bukan saya yang salah. Jelas-jelas saya disakiti. Jelas-jelas sayalah korbannya. Konsep itu sama sekali tidak masuk akal.

Butuh satu tahun bagi saya untuk bisa betul-betul memahami esensi dari pernyataan tersebut.

Butuh satu tahun bagi saya untuk bisa menyadari bahwa orang lain memang tidak bisa membuat saya menderita. Harapan dan ketakutan sayalah yang membuat saya menderita.

Untuk sadar bahwa orang lain bisa melakukan hal yang paling nista terhadap saya, namun saya bertanggungjawab atas setiap kemarahan, ketakutan, kekhawatiran, harapan, rasa tidak aman, dan banyak hal lain yang timbul dari batin saya sendiri.

Untuk sadar bahwa ketika saya menuntut orang lain untuk berubah menjadi seperti yang saya inginkan, tidak peduli label apa yang saya lekatkan di atasnya, itu bukanlah cinta.

Untuk sadar bahwa saya tidak pernah memiliki kendali atas hidup orang lain. Saya tidak bisa mengubah satu orang pun, dan akhirnya saya tersakiti bukan oleh tindakannya, melainkan oleh pengharapan saya sendiri.

Untuk sadar bahwa setiap pilihan mengandung resiko dan konsekuensi, namun saya tidak perlu mencicil keduanya lebih awal hanya karena saya hidup dalam harapan dan kekhawatiran.

Untuk memahami bahwa cinta memang tidak bersanding dengan harapan dan ketakutan. Ada perbedaan yang sangat besar di antara tiga hal tersebut, sekalipun saya teramat sering mencampurkan ketiganya dan menyebutnya cinta.

Untuk sadar bahwa cinta tidak pernah tumbuh dari masa lalu atau terkubur di masa depan. Ia hanya ada di sini dan sekarang.

Untuk sadar bahwa cinta tidak perlu dicangkangi. Seperti kita tak berusaha mewadahi awan atau mengandangi sinar mentari.

***

Hari ini, ketika saya menuliskan artikel ini, setitik air mata jatuh perlahan.

Untuk rasa syukur karena saya tak lagi perlu menyalahkan orang lain atas apa yang saya alami. Untuk hidup yang telah memberi begitu banyak keajaiban dengan caranya sendiri; yang telah mengizinkan saya untuk mengalaminya, bersentuhan dengannya, dan bertumbuh darinya.

Untuk mereka yang menangis karena suami yang berselingkuh, kekasih yang abusif, pacar yang semena-mena, sahabat yang mengkhianati kepercayaan, anak yang berlaku kurang ajar, orang tua yang tak pernah menunjukkan rasa sayang, dan banyak lagi.

Untuk harapan-harapan yang tak pernah mati dan kekhawatiran yang datang menghantui setiap malam. Bagaimana jika dia kembali berselingkuh. Bagaimana kalau dia sedang bersama wanita lain. Bagaimana kalau dia menyakiti saya lagi. Bagaimana jika dia ternyata belum berubah. Bagaimana jika saya dikhianati lagi. Dan sejuta ‘bagaimana’ lain.

Untuk kekecewaan yang hadir tatkala harapan tidak terpenuhi dan getir yang merampok batin ketika ketakutan benar-benar menjelma nyata.

Untuk mereka yang berjuang keras mencinta dan mempertahankan cinta.

Untuk setiap luka.

Untuk setiap pedih.

Untuk setiap harapan.

Dan ketakutan.

“I’m sorry.”
“Please forgive me.”
“I love you.”
“Thank you.”

Bukan tentang ‘apa’, ‘siapa’, atau ‘mengapa’. Tapi tentang kita.

—–

*Sebuah catatan yang diinspirasi oleh tulisan ini.

Saya dan (T)

Saya mulai bertanya tentang Tuhan ketika berusia duabelas tahun.

Pertanyaan pertama saya muncul di bangku SMP kelas satu. Saat itu, sekolah saya mewajibkan seluruh siswa menghadiri kebaktian yang diadakan setiap Minggu sore di aula. Khotbah yang disampaikan dalam kebaktian harus dirangkum menjadi catatan yang dibubuhi tanda tangan pengkhotbah, dan jumlah rangkuman tersebut turut menentukan nilai yang tertera pada mata pelajaran Agama di rapor. Bagi yang poinnya defisit, bisa dipastikan nilainya tekor dan mendapat bonus dipanggil ke kantor Kepala Sekolah.

Saya, yang paling malas menghadiri kebaktian karena merasa hari Minggu adalah jatahnya libur, selalu mencari alasan untuk mangkir. Saya bahkan nekat berkali-kali memalsukan tanda tangan di buku saya (nggak pernah ketahuan, by the way :-D). Namun, sebandel-bandelnya anak, ada batasnya juga. Suatu hari—entah tergerak oleh apa—saya pergi ke sana.

Saya duduk diam sepanjang kebaktian. Pertama, karena tidak tahu lagu-lagu yang dinyanyikan. Kedua, tidak tahu harus berbuat apa. Ketiga, tidak paham isi khotbahnya. Tidak lama setelah naik ke mimbar, sang pengkhotbah meninggalkan kutipan ayat-ayatnya dan melontarkan lelucon mengenai pemeluk agama lain.

Mereka tidak sebaik kita. Mereka tidak tahu apa-apa tentang kebenaran. Mereka bodoh dan patut dikasihani.

Jemaat tertawa.

Sore itu, saya meninggalkan aula dengan pertanyaan besar: apakah mereka tidak berpikir bahwa yang menghadiri kebaktian bukan hanya orang yang seagama? Apakah mereka tidak berpikir bahwa ada anak-anak yang datang hanya untuk mengumpulkan tanda tangan? Kenapa mereka harus menertawakan orang-orang yang berbeda keyakinan? Memangnya agama lain itu salah? Memangnya Tuhan pilih kasih? Katanya Tuhan tidak pandang bulu?

Saya ngambek dan mogok kebaktian selama berbulan-bulan. Saya berang terhadap ibadah Minggu dan segala tetek-bengeknya. Namun, di sisi lain, keingintahuan saya akan agama yang satu ini semakin memuncak.

Setiap akhir bulan, di Sabtu sore, seluruh siswa dikumpulkan di lapangan sekolah dan duduk berjejalan di bangku-bangku kayu yang dijejer membentuk setengah lingkaran untuk memperoleh siraman rohani selama dua jam. Biasanya, sebagian besar waktu tersebut saya habiskan untuk berkirim surat dengan teman kanan-kiri, ngobrol berbisik-bisik, atau menertawakan potongan rambut si pengkhotbah yang keriting nanggung. Seiring meningkatnya rasa penasaran, lambat laun saya mulai mendengarkan khotbah-khotbah itu dengan saksama. Saya lebih banyak diam, dan saya mulai rajin duduk di barisan depan bersama guru-guru dan sederet anak alim.

Dua bulan setelah ulangtahun saya yang ketigabelas, saya memutuskan untuk berpindah agama, sekaligus menjadi pemberontak pertama di keluarga besar saya. Orang tua saya tidak melarang, meski juga tidak rela.

Masa SMP dan SMU saya lewatkan dengan menjalani berbagai aktivitas rohani, mulai dari pertemuan doa, pertemuan pengerja, ibadah rutin, mengikuti berbagai seminar, sampai pelayanan gereja.

Dua bulan sebelum saya lulus dari SMU, saya mendatangi Ibu dan berkata bahwa saya tidak ingin melanjutkan kuliah. Saya akan mendaftar ke sekolah Alkitab, dan semuanya akan saya jalani dengan biaya sendiri.

Ibu saya diam sejenak, lalu menjawab tenang, “Mama tanya Papa dulu.”

Seperti yang sudah-sudah, mereka tidak melarang. Ibu sangat ingin melihat saya menjadi sarjana, namun beliau tidak memaksakan kehendaknya. Belakangan saya tahu, Ibu sering menangis diam-diam—menyesali anak sulungnya yang keras kepala. Ketika akhirnya saya ditahbiskan menjadi pendeta muda pada usia 18 tahun, beliau kembali menangis. Kali ini karena bangga melihat putrinya berbicara di belakang mimbar.

Dua setengah tahun saya habiskan dengan mempelajari Alkitab dan berkhotbah. Memasuki tahun ketiga pelayanan, saya berhenti berkhotbah dan hanya mempelajari Alkitab. Selama tahun-tahun itu pula, segala pertanyaan seperti lenyap begitu saja dari benak saya. Saya begitu bersemangat. Tidak ada ruang untuk pertanyaan. Tidak ada waktu untuk bertanya. Saya seperti kuda yang sedang berpacu di arena balap. Saya terus berlari. Secepat-cepatnya.

Hingga tibalah saat itu. Tahun 2007, tanpa penyebab spesifik, tanpa asal-muasal, tanpa permisi lebih dulu, sejumlah pertanyaan kembali berlompatan dan menggedor-gedor benak saya. Saya tidak tahu bagaimana bisa begitu. Barangkali saya mulai jenuh. Barangkali saya mulai kelelahan. Atau, barangkali, memang sudah waktunya.

Berbeda dengan sebelas tahun sebelumnya, kali ini pertanyaan itu tidak langsung muncul dalam bentuk kalimat tanya, melainkan rasa di hati.

Saya tak paham kenapa saya merasa ‘perih’ ketika menghadiri pemakaman orang tua seorang sahabat yang berbeda agama dengan anaknya, dan mendengar seorang pelayat bertanya, “Yang penting Papa sudah terima Tuhan, kan?”. Saya tak paham mengapa orang yang baik harus dijebloskan ke neraka hanya karena ia tidak menyembah Tuhan yang sama.

Saya tak paham kenapa surga hanya diciptakan untuk orang-orang yang seagama dengan saya, karena saya sangat yakin ada begitu banyak orang yang tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengenal Tuhan saya, dan itu bukan salah mereka. Bagaimana dengan mereka yang tinggal di tempat-tempat yang belum terjamah? Akankah mereka direbus di neraka hanya karena mereka tidak tahu Tuhan saya ada?

Saya tak paham kenapa saya merasa aneh ketika seorang kawan mengomentari teman-teman saya yang berbeda keyakinan dan berkata, “Ih, kok kamu mau sih gaul sama mereka?” dan ketika saya terdiam, ia meneruskan, “Kalau aku sih nggak bakal mau.”

Saya tak paham kenapa saya harus menginjili satu persatu anggota keluarga saya supaya kami bisa berkumpul di surga kelak. Ibu saya anak kelima dari sembilan bersaudara, dan saya mempunyai enambelas Oom dan Tante, lebih dari duapuluh sepupu, juga Nenek dan Kakek yang hampir semuanya berbeda agama dengan saya. Kebayang, dong? Selain itu, meski saya mempunyai pengalaman sebagai ‘tukang obat keliling’, saya tidak pernah berhasil mempertobatkan satu orang pun melalui penginjilan pribadi. Entah mengapa. Statistik saya sangat buruk dalam hal penginjilan one-on-one. Saya tak pernah tahu mengapa setiap kali saya hendak melakukannya lidah saya mendadak kelu.

Saya tak paham kenapa saya harus hidup dalam batasan baik-buruk, benar-salah, suci-dosa, dan hitam-putih, sementara dunia begitu penuh warna. Saya tak paham mengapa kami harus seragam, sementara perbedaan justru tampak begitu menarik dan memperkaya hidup. Saya tak paham kenapa saya harus selalu ‘baik-baik saja’ sementara hidup selalu punya banyak sisi dan rasa.

Saya tak paham kenapa saya disebut pemberontak karena memiliki banyak pertanyaan dan keingintahuan atas hal-hal yang dilarang agama. Bukan karena sengaja ingin membelot atau tak mau patuh, melainkan karena saya terus dikejar dengan berbagai ‘kenapa’. Kenapa nggak boleh? Kenapa harus? Kenapa jangan? Kenapa begitu? Dan banyak lagi. Saya tak paham kenapa saya dicap pembangkang, sementara yang saya inginkan hanya penjelasan yang masuk akal. Salahkah bertanya? Salahkah meminta alasan?

Saya tak paham kenapa saya dituntut untuk terus berubah, menjadi semakin seragam, semakin serupa dengan konsep ideal, dan semakin sempurna—meski kedengarannya memang menyenangkan. Saya tak paham, kenapa Dia yang dulu membuat saya jatuh cinta dengan penerimaan tak bersyarat kini menetapkan begitu banyak perintah, larangan dan aturan. Saya tak paham kenapa saya harus mengorbankan hidup saya untuk menyenangkan-Nya—tidakkah Dia ingin saya bahagia?

Saya tak paham kenapa saya tidak boleh bergaul terlalu akrab dengan mereka yang tidak seiman; kenapa saya harus senantiasa berhati-hati dalam bersikap agar ‘tidak ketularan’, dan kenapa saya harus terus berusaha ‘mengubahkan’ orang-orang di sekeliling saya menjadi sama seperti saya.

Saya tak paham, dan semakin bingung, ketika akhirnya saya sadar bahwa saya tidak pernah betul-betul ingin mempertobatkan satu orang pun, atau mempengaruhi siapa pun, kendati saya tumbuh dengan berbagai prinsip dan nilai yang (seharusnya) bisa mendatangkan kebaikan bagi orang lain. Pun ketika otak saya berkata orang-orang yang saya cintai akan mendarat di neraka karena saya gagal ‘membawa mereka’ (dimana kesalahan itu akan menjadi tanggung jawab saya), saya tetap tidak ingin mengubah apa pun dari mereka.

Saya tak paham kenapa ada begitu banyak duka dan darah yang tumpah atas nama Tuhan yang identik dengan cinta, welas asih dan pengampunan.

Saya tak paham kenapa manusia saling menghakimi, mengecam dan menuding atas nama Tuhan, jika kasih-Nya tidak membedakan.

Saya semakin tidak paham ketika otak saya berkata “Kamu salah”, sedangkan hati saya membisikkan hal sebaliknya.

Tanda tanya yang sama akhirnya menghantarkan saya pada lebih banyak pertanyaan mengenai Tuhan dan hidup.

Tigabelas tahun berlalu sudah. Saya memutuskan untuk tidak lagi menjerat-Nya dalam sebuah kotak.

Inilah yang saya maksud ketika saya berkata, “Saya tidak perlu mengenal-Nya.” Bukan karena saya berhenti mencari, namun karena saya tidak ingin tanda tanya itu berubah menjadi titik. Saya tidak ingin air itu membeku keras dan kehilangan kemampuannya mengalir. Saya tidak ingin memerangkapnya dalam sebuah wadah tunggal.

Saya ingin melihat-Nya dimana-mana, karena itu saya tidak ingin memanggil-Nya dengan sebuah nama. Saya ingin menjumpai-Nya dalam berbagai rupa, karena itu saya mencopot label dari sosok berjubah putih yang bisa membelah laut dan berjalan di atas air. Saya ingin mengenali-Nya ketika bertemu dengan-Nya di jalan, karena itu saya menanggalkan berbagai predikat yang selama ini saya gantungkan pada-Nya. Pernyataan ini boleh jadi sulit diterima, bahkan absurd, namun begitulah adanya—setidaknya bagi saya pribadi.

Inilah sejumput perjalanan saya dengan Tuhan, yang sekaligus merupakan tulisan paling bongkar-isi-perut di blog ini. Sangat sedikit orang yang mengetahui kisah ini sebelumnya. Lalu, mengapa sekarang saya menuturkannya?

Karena seumur hidup saya, saya diajar bahwa tidaklah baik menjadi diri sendiri apa adanya.

Karena separuh hidup saya, saya diajar bahwa bertanya itu salah.

Karena beberapa dari Anda yang membaca tulisan ini mungkin memiliki pertanyaan yang sama, kebimbangan yang sama, pergumulan yang sama, dan saya ingin berkata: “It’s OK.”

🙂

Tulisan ini tidak dibuat untuk mendiskreditkan agama tertentu atau pihak mana pun, dan saya tidak sedang berupaya meneguhkan atau melucuti keyakinan siapa pun. Semua ini hanya bagian dari ilusi yang saya mainkan di atas panggung bernama Kehidupan, dimana saya menari dan menjalankan peran yang saya pilih, termasuk mempertanyakan Tuhan dan segala hal dalam hidup.

Pertunjukan belum usai, permainan belum tamat, dan perjalanan masih panjang. Perjalanan ini bukan tanpa rintangan, dan pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa jadi sangat melelahkan, namun, pada saat yang sama, saya berharap pencarian ini takkan pernah berakhir.

—–

Dan (T),
Tahukah Kamu,
Belum pernah seumur hidup
Aku jatuh cinta seperti ini.

Terima kasih.

—–

Ruri dan Pak Dokter

Ruri adalah seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang bekerja sebagai salesgirl. Keperawanannya direnggut oleh kekasih lamanya ketika ia berusia 18 tahun. Kepada pacarnya yang sekarang, Ruri mengaku masih perawan karena takut ditinggalkan. Masalah baru muncul ketika sang pacar mengajaknya bertunangan. Ruri yang ketakutan rahasianya terbongkar memilih untuk menempuh jalan pintas: melakukan operasi selaput dara. Pacarnya tidak perlu tahu. Orangtuanya apalagi. Cukup dengan sekian juta rupiah, ia bisa mendapatkan kembali keperawanannya dan menjadi perempuan utuh. Perempuan sempurna yang didambakan setiap lelaki.

Ruri adalah tokoh rekaan saya. Ia hidup dalam benak saya dan dalam korespondensi yang berlangsung selama beberapa minggu antara saya dengan seorang dokter ‘spesialis’ operasi selaput dara. Saya menemukan website-nya dari blog seorang teman, yang karena pertimbangan tertentu tidak saya cantumkan di sini.

Ketika pertama kali membuka situs tersebut, saya hanya bisa melongo. Pertama, karena alamat dan nama situsnya yang sumpah mati malesin (saya harus menutupi layar laptop ketika membukanya di tempat umum—saking mokal-nya). Kedua, karena artikel-artikel di sana ditulis dengan gaya bahasa dan kosakata yang jauh dari kesan profesional bin terpercaya. Ketiga, karena background website tersebut berupa gambar perempuan seksi dengan ekspresi seduktif. Keempat, karena meskipun di sana tercantum kalimat ‘mendapatkan izin dari Departemen Kesehatan’, tidak ada unsur identitas yang cukup meyakinkan mengenai Pak Dokter dan klinik yang didirikannya. Satu-satunya ‘identitas’ yang ada hanya sepenggal nama (tanpa nama belakang), alamat e-mail, dan sebaris panjang nomor ponsel yang nggak ada cantik-cantiknya (baca: tipikal nomor yang gampang dibeli di mana saja dengan modal 10.000 perak).

Website itu berisi sejumlah penjelasan tentang operasi selaput dara, berbagai bentuk selaput dara, alasan tentang perlunya melakukan operasi selaput dara, testimoni dari pasien-pasien yang pernah ‘digarap’ Pak Dokter, dan tak lupa, pendapat dari pemuka agama mengenai operasi selaput dara ditinjau dari pemahaman kitab suci. Intinya, para perempuan yang telah kehilangan mahkotanya bisa mendapatkan kembali keperawanannya melalui operasi sederhana yang tidak menghabiskan biaya. Cukup dengan beberapa juta rupiah (yang relatif lebih murah dibandingkan operasi sejenis di luar negeri), selaput dara kembali utuh, kehormatan terjaga, dan tidak perlu khawatir ditinggal suami (atau calon suami) yang kecewa karena istri (atau calon istri) ternyata tidak perawan lagi.

Hal itulah yang menggelitik saya untuk mengirimkan e-mail kepada Pak Dokter. Ruri membutuhkan pertolongan. Saya membutuhkan pemuas rasa ingin tahu.

E-mail yang saya kirimkan di siang hari dibalas malam itu juga. Dengan tutur kata halus dan sopan santun terjaga, Pak Dokter mengungkapkan bahwa biaya operasi selaput dara sebesar 5 juta rupiah, dengan waktu yang bisa ditentukan sendiri oleh ‘Adik Ruri’. Alamat klinik akan diberikan menjelang tanggal operasi.

Ruri sempat terkesima, tidak bisa membayangkan apa yang terjadi seandainya ia meminta operasi dilakukan besok pagi di Surabaya, misalnya. Namun ia mencoba untuk mengerti. Barangkali cara kerja dokter profesional memang seperti itu. Praktis dan serba rahasia karena tidak ingin direpotkan oleh pasien.

Saya punya tabungan sebesar 5 juta rupiah, namun Ruri tidak. Ruri hanya mahasiswi sederhana yang keuangannya pas-pasan. Tabungan dari hasil bekerja sebagai salesgirl tidak bisa menutupi biaya operasi. Maka, Ruri mengirim e-mail kedua kepada Pak Dokter, memohon agar diberi keringanan.

Balasan kembali datang. Kali ini, Pak Dokter tidak seramah semula. Tulisannya singkat dan dingin, tanpa salam pembuka atau salam penutup. Hanya beberapa kalimat pendek yang menyatakan bahwa harga terakhir yang diberikannya adalah 4 juta rupiah, dengan catatan operasi harus dilakukan selambatnya 2 minggu setelah e-mail dikirimkan.

Ruri yang lega dan kegirangan langsung mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kebaikan hati Pak Dokter. Tanggal operasi pun ditentukan: 7 November. E-mail berikutnya yang diterima Ruri dari Pak Dokter berisi pernyataan bahwa ia wajib membayarkan uang muka sebesar 200 ribu rupiah sebelum tanggal operasi yang sudah disepakati.

“Hitung-hitung uang bensin, sekaligus menguji apakah Adik serius atau tidak. Untuk orang yang serius, 200 ribu bisa ditanggulangi dengan mudah, tapi orang iseng akan berpikir 1000 kali untuk mengeluarkan uang. Dokter makan uang segitu nggak akan kaya. Maaf ini pengalaman, karena pernah diberi kelonggaran kepada pasien, malah ngelunjak (tidak datang, padahal Dokter sudah datang, sudah beli alat, sudah sterilkan alat operasi, dan lain-lain, jadi Dokter rugi kalau pasien tidak datang dan cuma iseng.” tulis Pak Dokter sedikit curcol.

Tentu saja Ruri tidak keberatan. Apalah artinya 200 ribu rupiah dibandingkan dengan keperawanan yang kembali utuh dan hubungan yang harmonis dengan calon tunangannya. Ruri berjanji akan membayarkan uang muka pada awal bulan setelah menerima gaji. Ia juga meminta nomor rekening Pak Dokter.

Setelah janji diberikan, Pak Dokter kembali bersikap manis. Pak Dokter berjanji tidak akan mengecewakan Adik Ruri, namun nomor rekening tidak dapat diberikan sebelum tanggal pembayaran uang muka. Ruri pun maklum. Barangkali cara kerja dokter profesional memang seperti itu. Inginnya yang pasti-pasti saja.

Saya menikmati jalannya korespondensi itu dari balik layar. Pelan namun pasti, saya terheran-heran sendiri dengan munculnya berbagai rasa yang tidak saya sangka-sangka. Awalnya, saya merasa keisengan ini amatlah lucu. Ketika mendapat balasan untuk pertama kalinya, saya terpingkal-pingkal sampai taksi yang sedang saya naiki nyaris nyasar ke kompleks tetangga.

Saat korespondensi berlanjut, rasa yang mendominasi bukan lagi geli dan penasaran. Saya sebal dengan sikap Pak Dokter yang berubah drastis ketika penawaran dilakukan. Keliatan bener pengen duitnya, meskipun Pak Dokter tidak sepenuhnya salah. Dokter kok ditawar, lo kira beli ikan di pasar?

Saya juga kesal dengan tenggat waktu yang ditentukannya. Mentang-mentang boleh nawar, langsung dibatesin 2 minggu. Namun, lagi-lagi, Pak Dokter tidak sepenuhnya salah. Udah bagus didiskon. Jangan ngelunjak, Jeeek.

Saya sendiri tidak tahu kenapa saya ikut-ikutan sebal dan kesal. Mungkin karena seperti Ruri, saya pun perempuan, kendati saya tidak ambil pusing dengan urusan perawan atau tidak perawan. Utuh atau terkoyak. Sempit atau longgar. Baru atau bek… uuups.

Korespondensi yang (awalnya) berlangsung atas nama iseng itu akhirnya membuat saya merenung sendiri: apa yang akan saya lakukan jika berada di posisi Ruri. Seandainya saya membohongi pacar saya dengan mengatakan bahwa saya masih perawan, akankah saya meneruskan kebohongan itu ketika ia mengajak saya menikah? Bahkan seandainya saya mendapatkan kembali ‘keperawanan’ saya dengan jalan operasi—dan tidak seorangpun tahu kecuali saya dan Pak Dokter—akankah saya tega membohonginya seumur hidup? Tegakah saya menyenangkan suami saya dengan membiarkannya mengira tetesan darah dan erangan yang saya keluarkan pada malam pertama kami adalah perlambang kesucian yang saya persembahkan hanya untuknya? Dan sanggupkah saya menjalani kehidupan rumah tangga nantinya, sementara saya sadar fondasi yang melandasinya amatlah rapuh?

Ruri memilih menghubungi Pak Dokter untuk menyelesaikan masalahnya. Akankah saya memilih jalan yang sama?

Sayangnya, saya tidak suka berandai-andai. Hidup, bagi saya, bukan naskah novel yang memerlukan outline sebelum ditulis. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena saya bukan Ruri. Biarlah Ruri yang menjawabnya sendiri.

Tanggal 31 Oktober—2 hari sebelum uang muka dibayarkan dan 7 hari sebelum tanggal operasi—Ruri mengirimkan e-mail terakhirnya kepada Pak Dokter.

Yth. Pak Dokter,

Dengan ini, saya hendak menginformasikan pembatalan operasi yang tadinya dijadwalkan pada 7 November.

Tadi malam pacar saya berkunjung ke rumah, dan saya menceritakan semua kepadanya, termasuk rencana operasi selaput dara ini. Saya tidak tega membohongi dia. Kalau kami bertunangan nanti, bahkan sampai menikah, saya tidak mau rumah tangga saya dilandasi dengan kebohongan. Lebih baik saya jujur daripada membohongi orang yang saya cintai, meskipun dia memutuskan saya. Ternyata, pacar saya tidak keberatan. Dia memang kecewa, tapi dia bersedia menerima saya apa adanya. Dia bilang dia tetap menyayangi saya meskipun saya sudah tidak perawan, karena selain keperawanan, ada hal-hal yang lebih penting di dunia. Cinta kami salah satunya. Saya lega dan bahagia sekali.

Terima kasih banyak atas kebaikan Pak Dokter selama ini, mulai dari membalas e-mail saya, memberi keringanan biaya, dan sebagainya. Saya sangat menghargai itu.

Salam,

Ruri

Saya membaca ulang e-mail yang baru saja terkirim, dan tersenyum sendiri. Drama singkat ini telah memberi pelajaran kepada saya jauh lebih banyak dari yang saya kira.

🙂

P.S. Pak Dokter membalas e-mail terakhir ini dengan memberi diskon tambahan sehingga tarif operasi menjadi 3 juta rupiah saja. Ada yang berminat? 😉

—–

The Power of Mind

Saya dan seorang teman berencana pergi bersama. Belum lagi niat itu terlaksana, saya merasa terganggu dengan aroma bawang yang menguar dari tubuhnya. Bukan ‘bawang’ yang merupakan kiasan bau badan, tapi bawang yang sebenarnya. Celakanya, saya tidak tahan dengan aroma bawang.

“Kamu baru masak pakai bawang, ya?” saya bertanya setengah menuduh. Aroma itu semakin tajam, benar-benar mengganggu. Saya menatapnya dengan bimbang. Lebih baik tidak jadi pergi daripada tersiksa sepanjang jalan.

“Iya. Kamu nggak suka, ya?” ia mendekatkan tangan ke hidung dan mengendusnya. Ketika saya mengiyakan, ia berkata enteng, “Kalau aku sih udah biasa masak pakai bawang.”

Detik berikutnya, saya membuka mata. Saya sedang berada di tempat tidur, bergelung seperti bayi dengan selimut tebal. Di luar hujan. Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Berarti baru 4 jam saya tidur, setelah semalaman begadang membaca novel.

Bukan mimpi itu yang membangunkan saya, melainkan kenyataan bahwa hidung saya benar-benar mencium aroma bawang yang tajam menyengat. Selama beberapa detik saya melongo—antara percaya dan tidak.

Saya keluar dari kamar. Seseorang baru selesai memasak dan aromanya memenuhi kamar saya yang tepat berseberangan dengan dapur. Saya menghela nafas. Bukan saja saya tidak bisa kembali tidur; saya harus ‘membersihkan’ sarang saya dari aroma itu sebelum masuk lagi ke sana.

Sambil menunggu aroma bawang lenyap, saya melamun sendiri memikirkan mimpi aneh tadi.

Indra penciuman saya telah menangkap aroma bawang yang saya benci ketika saraf-saraf saya yang lain—yang masih terlelap—belum menyadarinya. Dengan mekanisme yang tidak saya pahami, otak saya menyeleksi aroma asing itu dan mengelompokkannya ke dalam kategori ‘bau-bauan tidak enak’, lantas menciptakan ilusi berupa mimpi untuk ‘mengalihkan’ perhatian saya. Sebuah mimpi yang memang berhasil menahan tidur saya selama beberapa menit sebelum akhirnya saya sungguhan terjaga.

Sepanjang pagi, tidak habis-habisnya saya merenungi kejadian itu dan merasa kagum sendiri atas kemampuan pikiran (alam bawah sadar—atau apa pun namanya) yang supercepat, supertanggap dan superkreatif dalam ‘menanggulangi’ sebuah masalah—bahkan sebelum kesadaran saya mampu mencerna masalah tersebut. Agar saya tidak perlu terbangun, diciptakanlah mimpi yang mengonfirmasi ketidaksukaan saya, dan lucunya, orang yang berinteraksi dengan saya di mimpi itu adalah orang yang sedang bertengkar dengan sahabat saya di kehidupan nyata. Beberapa hari terakhir, sahabat saya rutin mengadukan kekesalannya atas ulah seorang kawan, dan meski saya berusaha netral, sedikit banyak saya ikut terpengaruh oleh peristiwa tersebut. A ditambah B, dan voila, pikiran saya dengan kreatif memasok ilusi masakan bawang yang dibuat oleh orang yang tidak saya sukai demi menutupi fakta sederhana bahwa tepat di depan kamar saya seseorang (hanya) sedang memasak.

Saya termangu mendapati betapa sederhananya kenyataan itu, dan betapa kompleksnya cara kerja pikiran dalam (berusaha) menanggulangi sebuah masalah—di mana yang disebut ‘masalah’ sesungguhnya tidak lebih dari sesuatu yang tidak saya sukai.

Lucu, bagaimana perangkat yang didesain untuk menolong manusia berevolusi dan menapaki perjalanan hidup sebagai makhluk berakal budi sanggup menciptakan berbagai ilusi yang mengaburkan pandangan dari kenyataan sederhana yang sebenarnya terjadi. Jangan-jangan, sebenarnya tidak pernah ada yang salah dengan hidup ini. Jangan-jangan, segala sesuatu yang terjadi hanyalah ‘ada apa adanya’. Jangan-jangan, kita sebenarnya bertanggungjawab atas ilusi yang diciptakan pikiran ini, sementara pada saat yang sama kita menudingkan jari pada begitu banyak hal di luar sana yang kita anggap sebagai sumber masalah—sedangkan apa yang disebut ‘masalah’ sebenarnya tidak lebih dari sesuatu yang tidak kita sukai.

Jangan-jangan. Saya sendiri tidak tahu. Namun kemungkinan itu ada.

Anda yang membaca judul di atas barangkali berasumsi bahwa saya menulis artikel self-help mengenai kekuatan pikiran dan bagaimana memaksimalkan potensi tersebut untuk menolong seseorang mencapai keberhasilan. Sebut saya naif, namun saya berpendapat, mustahil untuk hidup dalam kekuatan pikiran yang sejati jika seseorang tidak betul-betul memahami cara pikirannya bekerja. Jangan-jangan, segala konsep motivasional yang kita kenal selama ini tidak lebih dari ilusi yang diaminkan dengan mata setengah terpejam, karena apabila segala faktor yang melatari konsep tersebut dirunut ke belakang, kita hanya membentur sebuah alasan yang sama: kita ingin bahagia.

Jika demikian adanya, lantas apa hubungan antara kebahagiaan dengan kesuksesan? Kebahagiaan dengan mencapai hal-hal tertentu yang kita inginkan? Mengapa kita memerlukan kondisi tertentu agar bisa bahagia? Mengapa kita harus meraih ini dan itu dulu; atau memiliki anu dan inu? Mengapa kita tidak bisa bahagia sekarang? Mengapa kita sulit untuk bahagia—begitu saja?

Dan pertanyaan yang sama pun kembali berulang di benak saya: are you happy, Jen?

* * *

Pagi itu, saya duduk di dekat jendela dengan novel di pangkuan dan semangkuk mi instan mengepul. Di luar hujan terus mendera bumi. Saya kedinginan, tapi teh manis panas perlahan-lahan menghangatkan tubuh. Untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, mendadak saya merasa bahagia. Sangat bahagia.

Saya tidak tahu kenapa saya bahagia. Mungkin karena novel baru yang belum selesai dibaca. Mungkin karena semangkuk mi instan dan secangkir teh panas. Mungkin karena rintik hujan yang membuat suasana jadi romantis. Mungkin karena mimpi barusan secara tidak langsung telah mengingatkan bahwa saya tidak perlu terjerat ilusi dalam menjalani permainan hidup; bahwa saya bisa bernafas lebih lega dan melangkah lebih ringan. Atau mungkin karena kebahagiaan sesederhana cuaca; datang dan pergi pada waktunya. Saya tidak perlu tahu kenapa dan kapan.

Mungkin. Entahlah. Saya tidak berminat mencari tahu. Yang saya tahu hanya, pagi itu saya tidak butuh banyak untuk bisa bahagia.

🙂

*Gambar dipinjam dari gettyimages.com.

—–