Tentang Sebuah Cincin

image

Sayang,
Pagi ini ranah maya menyuguhkan kejutan yang lebih manis
dari roti tawar berselimut cokelat.
Ditemukan sebuah cincin di perairan pulau
yang katanya menjadi kediaman para dewa
Di sana terukir lambang keluarga, dua nama dan satu usia
Perlambang cinta yang lama dan tak sia-sia.

Sayang,
Pagi ini cincin yang terdampar membuatku tahu
Aku ingin kau yang ada di sampingku
Waktu putih rambut kita dan berkerut jari kita
Meniup lilin yang banyak jumlahnya
Saat merayakan hari jadimu ketujuhpuluhdua
Sambil membisikkan doa agar selalu kita bahagia.

Sayang,
Pagi ini doaku sederhana saja

Semoga kita abadi.

(Cincin ditemukan di Ungasan, Bali. Tidak ada kabar tentang keberadaan pemiliknya.)

Surat untuk Bapak Macan

Bapak Prabowo yang Perkasa Seperti Macan,

Waktu kecil saya pernah ditanya, apa cita-citamu kalau sudah besar?

Jawaban yang populer di masa itu adalah jadi dokter. Tapi saya tak kuat melihat darah. Karenanya lantang saya bilang, ingin jadi presiden. Presiden itu hebat. Dikagumi orang, disanjung rakyat, disegani dunia. Saya percaya, jutaan anak Indonesia pernah merasakan punya cita-cita yang sama. Bapak adalah seseorang yang amat beruntung, karena Bapak sudah sedekat ini dengan kursi presiden.

Tadi malam, saya menyimak wawancara Bapak dengan sebuah stasiun televisi internasional. Saya mengira akan mendapati argumen yang diperkuat fakta dan bukti nyata. Sesuatu yang bisa membuat saya, dan jutaan rakyat yang memilih saingan Bapak, berpikir dua kali dan menjadi simpati (karena, percayalah, jika Bapak dilantik jadi presiden, Bapak akan tetap membutuhkan dukungan rakyat). Namun yang saya temukan bukanlah ketegasan dan kekuatan seorang calon pemimpin yang siap melayani, melainkan kemarahan dan kepahitan seorang calon penguasa yang gagal naik tahta.

Saya tercengang. Segusar itukah Bapak?

Barangkali anggapan Bapak benar. Barangkali tudingan itu bukan bualan. Mungkin kami semua sedang dibohongi oleh seorang tukang mebel yang pura-pura rendah hati. Namun, menyimak perkataan Bapak, yang saya dapati hanya amarah yang membuat jengah. Analogi ini mungkin berlebih, tapi saya seperti sedang menyaksikan bocah yang meronta di toko mainan karena tidak dibelikan robot-robotan.

Bapak, saya tak ingin punya pemimpin yang begitu dikuasai ambisi dan amarah, karena saya tak mau hidup dalam ketakutan. Pemimpin yang menghalalkan segala cara untuk meraih keinginannya akan melahirkan prajurit-prajurit yang tak kenal belas kasihan, dan bukan itu yang kami perlukan. Lebih dari tiga abad kami dijajah. Lebih dari tiga puluh tahun kami hidup dalam gentar. Cukup sudah kami didera.

Indonesia dari dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah. Mungkin kami dianggap bodoh, seperti yang Bapak katakan. Namun adakalanya menjadi ramah dan bijak lebih baik ketimbang pintar dan perkasa. Mungkin kami bukan macan yang jago mengoyak mangsa, namun kami tak memerlukan taring karena kami bukan bangsa pemburu. Barangkali kami disebut pemalas, seperti ucapan Bapak dalam wawancara, namun dalam ‘kemalasan’ kami masih sempat bertegur sapa dan saling merangkul sesama saudara. Karena, Bapak, itulah Indonesia yang kami tahu. Indonesia yang diceritakan dalam buku Pendidikan Moral Pancasila.

Bapak Prabowo yang Tangguh Seperti Macan,

Beberapa hari lalu dalam wawancara di Metro TV, Jokowi memakai sepatu seharga dua ratus ribu. Istri yang membelikan, katanya sambil tertawa. Mungkin itu semua cuma pura-pura. Barangkali kesederhanaan itu tak lebih dari permainan. Namun tahukah Bapak, berapa banyak hati yang dibesarkan oleh sepasang sepatu dua ratus ribu di kaki seorang calon presiden? Berapa banyak semangat dan harapan yang bangkit saat seorang calon presiden berjanji ia takkan punya kepentingan, selain mengabdi kepada rakyat? Berapa banyak anak tuna netra yang punya keberanian untuk terus bermimpi setelah kawan mereka dihampiri dan ditepuk pundaknya oleh calon presiden? Berapa banyak senyum yang terkembang saat seorang calon presiden tanpa segan berpose ‘selfie’ di televisi nasional? Ratusan tahun kami dijajah, akhirnya kami punya figur yang mendekati ayah—meski ia lebih suka dipanggil kakak. Dan pernahkah Bapak berpikir, berapa banyak kekecewaan yang sirna dan maaf yang diberikan, saat dengan senyum ia berkata, “Pak Prabowo dan Pak Hatta adalah patriot dan negarawan. Saya percaya mereka akan melakukan yang terbaik untuk negara ini.”?

Bapak, kami sungguh tak ingin membenci. Kami hanya ingin seorang pemimpin yang bisa kami cintai dan hormati, seseorang untuk dipercayai, yang tak menimbulkan ngeri. Beliau sudah ada di sini. Tolong beri ia kesempatan. Biarkan ia menjalankan tugas sebagai abdi rakyat. Dan sementara ia bekerja, barangkali Bapak bisa duduk beristirahat, meluruskan kaki yang sudah penat.

 

Salam,

Saya yang tak Ingin Jadi Macan

Dua untuk yang Raya

Saya golput nyaris seumur hidup. Satu-satunya saat saya mencoblos adalah belasan tahun silam, itu pun atas desakan almarhumah Ibu yang tak ingin anaknya golput di pemilu pertamanya. Esoknya, hasil pemungutan suara diumumkan. Saya tak peduli dan tak mau tahu. Satu-satunya yang saya tahu, tinta ungu itu baru hilang setelah seminggu.

Coblosan itu adalah yang pertama dan terakhir. Pun ketika banyak orang mulai tergugah dan berbondong-bondong mendatangi TPS untuk pemilihan legislatif beberapa bulan lalu, saya memilih untuk tinggal di rumah menonton serial kesayangan. Foto-foto jari tercelup tinta ungu tidak menggugah niat saya. Saya golput sejati, kalau perlu sampai mati.

Hingga beberapa minggu lalu. Saat saya mulai menyimak, membaca, mempelajari, membaca lagi, dan akhirnya membuat kesimpulan. Jika dulu golput adalah usaha saya melawan, sebagai bagian dari kelompok minoritas yang kerap tertindas, kini golput terasa seperti ketidakpedulian. Akan masa depan bangsa. Akan tanah air dan dua ratus empat puluh juta rakyat Indonesia, di dalamnya termasuk saya, keluarga, dan teman-teman yang saya cintai. Akan Ibu Pertiwi yang sudah memberi begitu banyak tanpa pernah saya meminta.

Kulit saya kuning terang. Mereka bilang, mata saya hilang saat tertawa. Saya tumbuh di lingkungan yang tak mengapresiasi perbedaan, meski sesuai julukannya, Indonesia Raya seharusnya megah justru oleh keberagaman. Merayakan tahun baru hanya bisa dilakukan sembunyi-sembunyi. Olok-olok dan ejekan rutin menjadi santapan, hanya karena kulit saya kuning dan mata saya segaris. Mengucapkan pendapat dengan terbuka diancam hukuman yang bisa menghilangkan nyawa. Rasa takut dan cemas tak henti-henti menjajah. Dan kini, ia yang pernah bersanding dengan para ‘penjajah’ hendak duduk memerintah. Saya tak lagi bisa tinggal diam, meski suara saya cuma satu. Mendadak, setiap suara jadi berharga, setiap pilihan jadi bermakna.

Belum lama berselang, saya menerima sebuah pertanyaan. Apa harapanmu bagi Indonesia? Saya ingin menjawab, tetapi tidak sepatah kata pun keluar. Pertanyaan tersebut menghantui saya hingga pagi. Sorenya, lewat layar tigabelas inci, saya menyaksikan konser yang dihadiri ratusan ribu kepala. Mereka hadir tanpa diupah. Mengacungkan dua jari tinggi-tinggi dari berbagai penjuru, kendati tak ada lembaran rupiah menunggu. Berpanas-panas dan berdesakan tanpa menghiraukan lapar dan dahaga. Mereka datang bukan untuk mengarak seorang calon presiden. Mereka datang untuk merayakan bangkitnya harapan yang sudah lama mati.

Saya pun tersadar. Saya tak bisa menjawab pertanyaan itu bukan karena tak punya harapan, melainkan karena telah lama kehilangan iman. Kini, harapan telah tersemai. Saya memutuskan untuk tak lagi abai.

Mereka memanggil saya Cina, namun hati saya milik Indonesia. Kali ini saya memilih dua, karena saya ingin Indonesia tetap raya.

10417542_10152568260771489_2081099696213053437_n

The Enemy

We are our own greatest enemy.

And so we beat ourselves up

We judge ourselves until we bleed

We compare ourselves to others

Each day and night, every single time

We are so hard on ourselves

Because we are, indeed, our greatest enemy.

But even God says, “Love your enemy.”

Remember?

Go Green, Go Glocal

homemadedeo

Go Green. Istilah yang mulai populer beberapa tahun lalu ini kini bisa kita dengar di mana-mana. Hampir semua negara di seluruh dunia mengadopsi konsep ini, tak terkecuali Indonesia. Meski tercantum dalam kategori negara dunia ketiga, Indonesia tak ingin ketinggalan memberi kontribusi bagi bumi yang semakin renta. Dengan alternatif yang beragam, ramah lingkungan dan minim emisi karbon, bisa jadi ‘go green’ adalah satu-satunya gaya hidup yang bisa menyelamatkan bumi.

Namun, tak jarang pula kita dengar keluhan, “Go green? Mahal!” karena produk-produk yang menjunjung konsep ramah lingkungan memang umumnya dihargai lebih tinggi ketimbang produk-produk lain yang mudah dijumpai di supermarket dengan harga miring. Saya pernah menemukan sikat gigi dari bambu yang dihargai enampuluh ribu rupiah. Bandingkan dengan harga sikat gigi di supermarket yang hanya seperenamnya. Tak heran masih banyak masyarakat yang merasa sangsi dan enggan mengadopsi gaya hidup baru ini.

Lantas, apa alternatif yang dapat ditempuh agar ‘go green’ tak lagi jadi konsep yang mengundang keraguan? Kita bisa mewujudkan gaya hidup ramah lingkungan dengan bahan-bahan yang dapat diperoleh dengan mudah, sejauh jangkauan tangan kita, tanpa harus mengeluarkan biaya besar, namun memiliki kualitas yang bisa bersaing dengan produk internasional. Glocal. Produk buatan lokal dengan kualitas global.

Saya pun mulai bereksperimen. Saya mengganti deodoran buatan pabrik dengan deodoran buatan sendiri* yang menggunakan minyak kelapa murni, baking soda dan maizena—semuanya sudah tersedia di dapur. Saya meninggalkan lulur pabrikan dan menggunakan garam dicampur minyak kelapa dan minyak kayu putih untuk mengangkat sel-sel kulit mati di tubuh. Hasilnya amat mengejutkan. Selain biaya yang lebih murah dan kualitas yang tak kalah baik, saya terbebas dari rasa takut karena produk perawatan tubuh buatan pabrik biasanya mengandung bahan yang kurang aman (deodoran umumnya mengandung aluminium yang dapat memicu kanker). Saya merasa jauh lebih percaya diri karena produk-produk ramah lingkungan pastinya juga ramah bagi kesehatan. Saya tak lagi didera rasa khawatir, dan saya bisa berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitar saya. Perasaan yang luar biasa.

Bagi saya sekarang, ‘go green’ bukan lagi sebuah konsep di awang-awang atau slogan populer yang bertebaran di mana-mana. ‘Go green’ adalah bagian dari keseharian saya; gaya hidup yang saya adopsi secara sadar, sepenuh hati. Kalau saya bisa, mengapa kamu tidak? 🙂

 

*Seperti pada gambar